My Inspiration Concept Design “Mess House”

Posted on 28 Juli 2010

0


Konstruksi atap “melayang”, selain indah dipandang juga berperan dalam menciptakan bangunan sehat.

Bangunan Sementara

Awalnya, pemilik tanah seluas 400 m2 ini ingin mendirikan rukan (rumah kantor) di atasnya. Namun keterbatasan biaya membuat rencana tersebut tidak bisa diwujudkan. Maka dipikirkanlah alternatif lain, yaitu membangun rumah kos. Pemilik tanah berharap penghasilan sewa kamar kos bisa digunakan untuk menambah biaya pembangunan rukan. Karena itu rumah kos ini dibuat dengan material yang sederhana, sehingga mudah untuk dibongkar nantinya.

Bentuk Ruang Bujursangkar

Rumah kos ini ditujukan untuk karyawan beberapa perusahaan yang ada di sekitar bangunan tersebut. Karena karyawan-karyawan itu adalah orang-orang yang sibuk dengan pekerjaannya, maka kos ini bisa dibilang hanya merupakan tempat peristirahatan bagi mereka. Inilah alasan Andra membuat suatu bangunan yang tidak rumit, namun bisa menampung segala keperluan mereka saat senggang, seperti tidur, menonton TV, membaca, dan melakukan kegiatan santai lainnya.

Bangunan berbentuk persegi panjang ini dibagi menjadi lima bagian dengan modul bujur sangkar. Empat bagiannya disediakan untuk kamar, dan satu bagian sisanya dibuat untuk area servis dengan  alasan adalah untuk menciptakan ruang yang efektif dan efisien, yang bisa menampung berbagai macam kegiatan penghuninya.

Area servis diletakkan agak terpisah dari keempat kamar tidur tersebut agar kegiatan yang diwadahi oleh kedua ruang ini tidak saling mengganggu. Area ini terdiri dari dapur, kamar mandi dan tempat cuci.

Dinding Bambu

Seperti yang telah disebutkan di atas, rumah kos ini menggunakan material sederhana, agar dapat dirombak total sewaktu-waktu. Dinding kamar menggunakan bahan bambu yang difinishing dengan cat. Selain mudah didapat di daerah itu, bambu juga memiliki tampilan yang sederhana, sehingga cocok dengan konsep awal rumah kos ini.

Berbeda dengan kamar, untuk dinding area servis digunakan bahan seng. Ini karena area servis yang terdiri dari dapur dan kamar mandi harus menggunakan bahan yang tahan terhadap api dan air. Sementara kolom-kolom penyangga atap dibuat dari batang baja yang dilapisi cat untuk mencegah karat.

Alasan Kesehatan

Salah satu keunikan bangunan ini adalah atapnya yang seakan-akan “lepas” dari dindingnya. Ternyata konstruksi atap melayang seperti ini memang sengaja dibuat oleh sang arsitek. Selain untuk alasan estetis, juga untuk ventilasi silang (cross ventilation) dan menghindari racun asbes.

Terbatasnya lahan membuat ukuran satu kamar kos tidaklah terlalu besar. Karena itu perputaran udara yang baik menjadi sangat penting agar ruangan tidak terasa sumpek. Karena penggunaan AC tidak dimungkinkan, maka digunakanlah ventilasi silang yang dibuat pada bagian atas dinding. Ventilasi silang ini dapat mereduksi panas dalam ruang, yang ditimbulkan oleh bahan atap. Udara juga dapat terus mengalir berganti dengan yang baru, sehingga kesehatan para penghuni tetap terjaga.

Karena bangunan ini menggunakan bahan atap asbes, konstruksi atap melayang juga menguntungkan bagi penghuni. Atap yang terpisah dari dinding mencegah penghuni menghirup serbuk asbes yang beracun.

Pertanyaan yang biasanya muncul bila melihat atap melayang seperti ini adalah kemungkinan adanya tamu tak diundang semisal nyamuk atau kecoa. Namun masalah ini sudah dipikirkan oleh Andra. Ia mengantisipasinya dengan memasang kawat nyamuk di bagian atas bangunan, seperti plafon.

Sementara itu, untuk menghindari air hujan dan sinar matahari yang berlebihan, pada atap datar ini dibuat teritisan yang cukup lebar. Di bagian depan masing-masing kamar pun dipasangi tirai dari bambu, yang membuat sinari matahari sedikit terhalang. Bila tidak sedang digunakan, tirai ini bisa digulung ke atas sehingga tidak mengganggu aktivitas keluar-masuk kamar.

Meskipun bersifat temporer, perancangannya yang serius membuat bangunan ini menjadi salah satu karya arsitektur yang indah. Keindahan yang tidak menimbulkan kesulitan dan kerugian besar jika pada saatnya nanti ia dibongkar untuk digantikan dengan bangunan lain, yaitu rukan, sesuai rencana semula.