Material Ringan Untuk Taman Atap

Posted on 13 April 2010

1


Teknologi Struktur Taman Atap

Salah satu material yang digunakan pada struktur media tanam taman atap berteknologi konvensional adalah batu kali. Material yang dipasang sartu paket dengan ijuk ini, diletakkan di atas plat beton, setelah membrane waterproofing. Fungsinya adalah membentuk rongga-rongga pada lapisan media tanam, sehingga air dari permukaan media dapat mengalir ke bawah. Sedangkan ijuk yang diletakkan di atas lapisan batu kali, berfungsi sebagai filter, yaitu mengalirkan air ke bawah tetapi menahan butiran media tanam agar tidak menyumbat lubang pembuangan.

Akan tetapi penggunaan batu kali setebal 20 cm tersebut membuat beban pelat beton menjadi lebih berat. Karenanya, pada taman atap modern atau sering disebut roof garden ekstensif , material batu kali dan ijuk tidak digunakan lagi. Penggantinya adalah material drainage cell. Material dari bahan plastik ini biasanya dijual satu paket dengan lapisan “kain kelambu”, yang disebut geotextile, berfungsi sebagai filter menggantikan ijuk.

Drainage Cell Lebih Ringan dan Kuat

Drainage cell adalah salah satu produk yang dibuat dari material geokomposit. Geokomposit sendiri terbuat dari bahan plastik jenis HDPE (high density polyethylene), yang memiliki sifat elastis tetapi kuat. Selain sebagai drainage cell, plastik HDPE banyak dipakai pada elemen lanskap lain, seperti paving grass, pengganti grass block dari beton, mampu menahan beban hingga 100 ton/m2.

Sifat HDPE yang elastis juga menjadikan drainage cell dapat dibuat dalam berbagai bentuk, seperti lembaran maupun panel. Drainage cell berbentuk lembaran umumnya memiliki ketebalan 1 cm dengan berat kurang dari 1 kg/m2. Sedangkan yang berbentui panel (50 cm x 50 cm) memiliki tebal 3 cm dengan berat 2,5 – 3 kg/m2. Bandingkan jika menggunakan batu kali setebal 15-20 cm, akan menambah beban pada pelat beton 100-150 kg per m2.

Pada umumnya drainage cell setebal 1 cm digunakan pada tanaman berakar dangkal, misalnya tanaman groundcover. Sedangkan ketebalan 3 cm dipakai untuk tanaman berakar dalam, seperti tanaman berkayu.

Drainage Cell Lebih Mudah Dipasang

Kelebihan lain dari drainage cell adalah mudah dipasang. Drainage cell berbentuk lembaran, cukup “digelar” di atas pelat beton, seperti menggelar karpet. Pada bagian lubang pembuangan air, drainage cell dipotong seukuran diameter lubang dan lubang diberik kawat untuk menahan lembaran geotextile.

Pada drainage cell berbentuk panel (50 cm x 50 cm), kita cukup menyusun panel-panel sehingga menutup permukaan lantai. Menghubungkan  panel drainage cell dengan panel lain, cukup dilakukan dengan mengaitkan dan mengunci pengait yang telah tersedia pada masing-masing panel.

Drainage Cell Juga dapat Menyimpan Air

Drainage cell tidak hanya sekedar melewatkan air dari atas permukaan media tanam ke bawah, tetapi  ada juga yang dapat menyimpan air. Air yang mengalir dari atas, sebagian besar ditampung pada bagian dasar cell yang berbentuk seperti mangkuk. Drainage cell ini biasanya digunakan pada taman atap, dimana tanamannya membutuhkan kelembaban pada sistim perakarannya.

Meski memiliki banyak kelebihan, pemakaian drainage cell sebagai subsistem taman atap di Indonesia masih relatif jarang, Ini disebabkan material ini masih diimpor. Sedangkan filter geotextile ada yang diimpor, ada juga yang produk lokal. Saat ini, drainage cell plus geotextile-nya, dijual dengan harga Rp. 80 ribu sampai Rp. 200 ribu per m2.