6 Kesalahan Pemakaian Semen Yang Kerap Terjadi

Posted on 13 April 2010

0


Hasil akhir aplikasi semen yang tidak memuaskan belum tentu karena kualitas semen yang buruk. Penyebabnya bisa jadi karena cara pengaplikasiannya yang kurang tepat.

Semen merupakan material utama untuk membangun sebuah bangunan. Fungsinya tidak lain sebagai bahan pengikat campuran, mulai dari campuran beton, plesteran/acian dinding, sampai campuran untuk memasang batako.

Dengan ragam fungsinya ini maka pemakaiannya harus diperhatikan. JIka tidak, hasil akhir aplikasi semen menjadi tidak sempurna. Dinding bisa menjadi retak atau acaiannya mengelupas.

Bila sudah ada kerusakan seperti ini, lantas orang-orang menyalahkan kualitas semen yang dipakai. Padahal bila ditilik, keretakan dinding atau kerusakan lainnya itu bersumber pada cara pengaplikasian semen yang salah.

Kesalahan pengaplikasian semen memang kerap terjadi. Berikut ini 6 kesalahan dalam aplikasi semen yang paling banyak dilakukan orang

Takaran tidak sesuai dengan peruntukannya

Bila semen akan digunakan sebagai bahan mortar untuk plesteran, acian, maupun adukan beton, masing-masing campuran memiliki takaran agar membentuk campuran yang ideal. Namun yang terjadidi lapangan, seringkali tukang mencampurkan semen dengan takaran yang tidak sesuai dengan standar pemakaian.

Berlebihan memakai air

Adukan yang tidak bisa merekat bila tidak ditambahkan air. Air berfungsi sebagai pengikat semen dengan pasir atau batu kerikil. Jika air yang dicampurkan terlalu banyak maka campuran akan menjadi encer. Demikian juga jika airnya terlalu sedikit maka campurannya akan menjadi kental.

Permasalahan yang terjadi adalah tukang menuangkan air terlalu banyak kedalam adukan, baik untuk plesteran maupun beton. Akibatnya dinding, ketika dinding diplester dengan adukan semen maka akan banyak adukan yang terbuang kebawah karena adukan tidak bisa merekat dengan baik kedinding.

Sedangkan untuk campuran beton, pemakaian air harus ditentukan dari kualitas/mutu beton yang ingin dicapai. Kuantitas air harus dihitung dari perbandingan antara berat air dan berat semen (FAS). Komposisi air dan semen yang ideal jika FAS berkisar antara 0,4 – 0,6. Semakin tinggi nilai FAS maka adukan beton semakin encer. Umumnya untuk mendapatkan kualitas beton yang tingggi, nilai FAS-nya rendah.

Dicampur dengan material yang tidak tepat

Untuk membuat campuran plesteran dinding dibutuhkan material lain yaitu pasir. Permasalahan yang terjadi, pasir yang digunakan seringkali tidak “Sehat”, pasirnya mengandung lumpur, tanah liat, atau garam. Pasir yang tidak sehat menyebabkan semen tidak bisa menyatu dengan pasir.

Tak hanya mencampurnya dengan pasir berkualitas buruk, semen terkadang dicampur dengan batu kapur. Tujuannya untuk mengurangi pemakaian semen, justru bisa merusak hasil akhir aplikasi semen.

Campurannya tidak homogen

Permasalahan yang kerap terjadi, sebelum pasir atau batu kerikil tercampur semen dengan merata, air sudah dituang terlebih dahulu, alasannya untuk menghemat waktu. Akibatnya, ketika campuran tersebut diaplikasikan, ada beberapa bagian yang mudah terlepas karena komposisi semen sebagai perekat tidak merata

Diaplikasi secara sembarang

Campuran acian seringkali diaplikasikan sebelum permukaan plesteran mengering, akibatnya campuran acian tidak bisa menempel dengan sempurna pada permukaan plesteran. Selain itu, ketika diaplikasikan kepermukaan plesteran, campuran acian ini banyak yang rontok.

Disimpan di  tempat yang lembab

Meski kesalahan ini bukan terjadi pada saat mengaplikasikan semen, keslahan ini akan menyebabkan sulitnya pengaplikasian semen. Kesalahan yang kerap terjadi adalah semen disimpan di tempat yang lembab.  Akibatnya, uap air meresap kedalam semen yang ujung-ujungnya semen bisa mengeras

Posted in: DPC, Tips