Desain Balai Adat Riau

Posted on 10 April 2010

0


SUMBER CORAK

Corak dasar Melayu Riau umumnya bersumber dari alam, yakni terdiri atas flora, fauna, dan benda-benda angkasa. Benda­benda itulah yang direka-reka dalam bentuk-bentuk tertentu, baik menurut bentuk asalnya seperti bunga kundur, bunga hutan, maupun dalam bentuk yang sudah diabstrakkan atau dimodifikasi sehingga tak lagi menampakkan wujud asalnya, tetapi hanya menggunakan namanya saja seperti itik pulang petang, semut beriring, dan lebah bergantung.

Di antara corak-corak tersebut, yang terbanyak dipakai adalah yang bersumber pada tumbuh-tumbuhan (flora). Hal ini terjadi karena orang Melayu umumnya beragama Islam sehingga corak hewan (fauna) dikhawatirkan menjurus kepada hal­hal yang berbau “keberhalaan”. Corak hewan yang dipilih umumnya yang mengan­dung sifat tertentu atau yang berkaitan dengan mitos atau kepercayaan tempatan. Corak semut dipakai -walau tidak dalam bentuk sesungguhnya, disebut semut beriring­karena sifat semut yang rukun dan tolong-menolong. Begitu pula dengan corak lebah, disebut lebah bergantung, karena sifat lebah yang selalu memakan yang bersih, kemudian mengeluarkannya untuk dimanfaatkan orang ramai (madu). Corak naga berkaitan dengan mitos tentang keperkasaan naga sebagai penguasa lautan dan sebagainya. Selain itu, benda-benda angkasa seperti bulan, bintang, matahari, dan awan dijadikan corak karena mengandung nilai falsafah tertentu pula.

Ada pula corak yang bersumber dari bentuk-bentuk tertentu yakni wajik, lingkaran, kubus, segi, dan lain-lain. Di samping itu, ada juga corak kaligrafi yang diambil dari kitab Alquran.
Pengembangan corak-corak dasar itu, di satu sisi memperkaya bentuk hiasan. Di sisi lain, pengembangan itu juga memperkaya nilai falsafah yang terkandung di dalamnya.

NAMA-NAMA CORAK

Dengan mengacu kepada sumber-sumber yang telah disebutkan di atas, lahirlah beragam nama corak Melayu Riau. Berikut ini diperikan nama-nama corak tersebut.

Corak dari Tumbuh-tumbuhan

Motif yang bersumber dari tumbuh-tumbuhan (flora)

Corak bunga jumlahnya relatif banyak. Di antaranya ialah bunga bakung, bunga melati, bunga kundur, bunga mentimun, bunga hutan, bunga kiambang, bunga cengkih, bunga setaman, bunga serangkai, bunga berseluk, bunga ber­sanggit, btanga sejurai, bunga kembar, bunga tunggal, kembang selari, bunga­bungaan, dan lain-lain.

Kuntum

Corak kuntum, antara lain, ialah kuntum tak jadi, kuntum merekah, kuntum serangkai, kuntum bersanding, kuntum kembar, kuntum berjurai, kuntum jeruju, kuntum setanding, kuntum tak sudah, kuntum sejurai, dan sebagainya.

Daun

Corak daun, di antaranya, ialah daun bersusun, daun sirih, daun keladi, daun bersanggit bunga, susun sirih pengantin, susun sirih sekawan, daun berseluk, dan lain-lain.

Buah

Corak yang bersumber dari buah juga banyak terdapat dalam ragam hias Melayu Riau. Di antaranya ialah tampuk manggis, buah hutan, buah delima, buah anggur, buah setangkai, pisang-pisang, pinang-pinang, buah kasenak, buah mengkudu, delima mereka, dan lain-lain.

Akar-akaran

Corak yang berasal dari akar-akaran, antara lain, ialah kaluk pakis atau kaluk paku, akar bergelut, akar melilit, akar berpilin, akar berjuntai, akar-akaran, belah rotan, pueuk rebung, dan sebagainya.

Corak dari Hewan

Jenis Unggas

Corak dari jenis unggas, antara lain, ialah itik dan itik pulang petang, ayam jantan, ayam bersabung, burung punai, burung bangau, burung serindit, burung balam atau balam dua setengger, burung kurau, kurau mengigal, garuda menyambar, burung merak, merak sepasang, siku keluang, dan lain-lain

RAGAM ORNAMEN

Bangunan BALAI ADAT MELAYU RIAU pada umumnya diberi ragam hiasan, mulai dari pintu,jendelah,vetilasi sampai kepuncak atap bangunan,ragam hias disesuaikan dengan makna dari setiap ukiran.

Selembayung

Selembayung disebut juga “ selo bayung “ dan “tanduk buang” adalah hiasan yang  terletak bersilangan pada kedua ujung perabung bangunan.pada bangunan balai adat melayu ini setiap pertemuan sudut atap di beri selembayung yang terbuat dari ukiran kayu.

Singap

Menurut para budayawan melayu selembayung ini mengandung beberapa makna antara lain:

– tajuk rumah.Selembayung menbangkitkan “cahaya” rumah.
– Pekasih rumah, yaitu lambang keserasian dalam kehidupan rumah tangga.
Tangga dewa yaitu sebagai lambang tempat turun para dewa, mambang,akuan,soko,keramat,dan sidi yang membawa keselamat bagi manusia. Dalam upacara bedukun,selembayung yang terdapat pada”balai ancak” nyamengandung makna yang mirip dengan tanggan dewa
·       Rumah beradat yaitu sebagai tanda bahwa bangunan itu adalah tempat kediaman Orang berbangsa,balai atau tempat kediaman orang patut-patut. Tuah ruamah bermakna sebagai lambang bahwa bangunan itu mendatangkan tuah kepada pemiliknya.  Motif ukuran selembayung(daun-daunan dan bunga)melambangkan perwujudan kasih sayang.tahu adat dan that diri.

Sayap layang-layang atau sayap layang

Hiasan ini terdapat pada keempat cucuran atap.Bentuknya hampir sama dengan selembayung, setiap bangunan yang berselembayung haruslah memakai sayap layangan sebagi padanannya. Menurut para budayawan melayu selembayung ini mengandung beberapa makna antara lain:
– Letak nya pada keempat sudut cucuran atap sebagai lambang “empat pintu hakiki”
– Lambang kebebasan,yang tergambar dalam sayap layang-layang ini adalah kebebasan yang tahu batas dan tahu diri.
Hiasan perabung ini terletak di sepanjang perabung ini,disebut “kuda berlari”. Hiasan ini amat jarang dipergunakan .hiasan ini dipergunakan pada perabung istana. Balai kerajaan. Balai adat atau kediaman resmi penguasa tertinggi di wilayahnya
Menurut para budayawan melayu hiasan perabung  ini mengandung beberapa makna antara lain:

– Lambang kekuasan yaitu pemilik bangunan itu adalah penguasa tertinggi di wilayahnya
– Ukiran ditengah-tengah berlenggek-lenggek disebut kuyit-kuyit atau gombak-gombak. Ukiran ini melambangkan  pusat kekuasaan.

Hiasan lebah bergantung

Hiasan  yang terletak dibawah cucuran atap (lesplang ) dan kadang-kadang di bawah anak tangga disebut “lebah bergantung” atau” ombak-ombak”.Lambang ini berpijar pada motif hiasan, yakini”sarang lebah” yang tergantung didahan kayu. Menurut para budayawan melayu hiasan perabung  ini mengandung beberapa makna antara lain:
Sikap rela berkorban dan tidak mementingkan diri sendiri diangat dari sifat lebah yang memberikan madunya untuk kepentingan manusia.

Hiasan pada pintu dan jendelah

Hiasan pada bagian atas pintu dan jendelah yang disebut”lambai-lambai”,melambangkan sikap ramah tamah. Hiasan “Klik-klik” disebut kisi-kisi dan jerajak pada jendelah dan pagar.Menurut para budayawan melayu hiasan pada jendelah dan pintu ini mengandung beberapa makna:
– melambangkan bahwa pemilik bangunan adalah orang yang tahu adat dan tahu diri.

Lambang pada lubang angin ventilasi

Menurut para budayawan melayu hiasan pada jendelah dan pintu ini mengandung beberapa makna
Lambang pada bidai

Bidai (singap) disebut juga”teban layar” atau “ebek” dan “tebar layar “
Bidai yang terdapat pada balai adat melayu riau adalah bidai tingkat tiga. Bangunan ini khusus untuk istana, balai kerajaan ,balai adat ,atau kediaman datuk-datuk dan orang besar kerajaan,jadi kita bisa membedakan bangunan yang satu dengan yang lain.