Resort di Tengah Hiruk-Pikuk Kota

Posted on 4 April 2010

2


Boleh jadi The Haven menjadi salah satu destinasi pengunjung yang mendambakan kedekatan dengan alam di tengah hiruk pikuk kota Seminyak, Kuta, Bali. Pasalnya, Seminyak dikenal sebagai salah satu pusat kota yang ramai dan bising. Penghijauan di daerah ini pun dinilai masih kurang. Berangkat dari latar belakang itu, The Haven sengaja ingin menarik pengunjung dengan konsep hijau dibalut dengan gaya arsitektur modern tropis bernuansa Bali.

“Kami mau semakin ke depan, efek green akan semakin bertambah di hotel ini, dan orang yang sedang berjalan di sana ingin menghentikan langkahnya untuk mampir,” ungkap desainer The Haven, Antony Liu dan Ferry Ridwan.

Caranya adalah dengan menerapkan tanaman rambat pada tiap koridor dan tampak depan bangunan. Selain memberikan kesan hijau pada hotel, tanaman rambat ini juga berfungsi menahan sinar matahari sehingga koridor hotel tidak terlalu panas dan silau.

Pada fasad bangunan, tanaman rambat tampak melindungi bagian atas yang merupakan area kamar hotel, membuat bangunan Hotel The Haven tampak lebih sejuk dan lembut, kontras dengan area Seminyak yang sangat ramai dan bising oleh kendaraan bermotor.

Untuk mengatasi kebisingan dari jalanan, tim arsitek menggunakan suara air. Kebisingan Seminyak berubah menjadi tenang dan damai ketika kita mulai menginjakkan kaki ke pintu masuk hotel. Perlahan, suara bising kendaraan berganti dengan suara air yang bersumber dari air terjun buatan, membuat suasana kian dramatis.

Ornamen air terjun didesain seperti tangga air yang terus mengalir yang akan menjadi daya tarik tersendiri bagi hotel The Haven. “Memang air terjun itu untuk mengakali kota Seminyak yang berisik. Kebetulan kontur tanahnya memang turun kira-kira 50 meter ke belakang, sehingga kita memanfaatkannya untuk water fall. Sesuai dari konsep green modern tropis,” jelas Antony. Melewati tangga dengan air terjun buatan itu, kita akan tiba di area tengah hotel. Di sini tempat tamu hotel bersantai dengan sekedar berjemur atau berenang.

Total luas tanah The Haven sebenarnya tidak cukup besar, hanya 9100 m2. Lahannya pun harus dibagi tiga fungsi bangunan, seperti suites, hotel dan villa. Hotel yang berkapasitas 100 kamar itu mendapat lahan sekitar 3000 m2. Dengan space terbatas, kedua desainer harus memutar otak agar hotel dan vila tidak terlihat padat.

Vila yang berjumlah tujuh unit ini berada di antara suites dan hotel dengan kontur tanah yang rata. Empat unit berada di sebelah kanan, tiga unit di sebelah kiri serta koridor berada di tengahnya. Untuk mengeliminasi kesan padat di area vila, tim desainer menciptakan perbedaaan dengan menaikkan dan menurunkan lahan dengan menggali tanah asal.

Uniknya, itu justru menghadirkan kejutan-kejutan bagi pengunjung. Seperti vila yang berada di kanan didesain seolah-olah menghilang. Sebab vila itu terletak di lahan yang berada pada bagian bawah dengan roof garden di atasnya. “Sehingga sebatas mata memandang kita hanya melihat area hijau,” ulas Antony, arsitek alumnus Universitas Tarumanagara, Jakarta ini.

Sementara tampak kiri, vila lebih terlihat naik (elevated). Ada dua kamar vila yang berdiri di area itu, namun yang terlihat hanya satu. Kamar lainnya bersembunyi di bawah kolam renang dengan latar belakang dekorasi air yang cukup besar. Itu adalah salah satu trik desainer agar bangunan dengan lahan terbatas ini terkesan luas.

Unit vila yang berada di bawah, elevasinya berbeda dan lebih private. Turun ke area ini, kita akan menemukan satu ruangan kecil untuk menikmati roof garden yang dihiasi tanaman airis. Jika terus menuruni area itu, tak diduga akan ada living room dan kolam renang dengan open space. “Ada kamar mandi dan ruang ganti baju disana dan kalau kita belok, ada kejutan taman lagi dan suasana akan lebih privat,” kata Antony.

Untuk desain interior, mulai dari fasad hotel banyak memakai elemen kayu agar tetap konsisten dengan konsep naturalnya. Reflecting pond langsung tampak ketika memasuki entrance hotel . Peletakan reflecting pond disana agar menghilangkan akses langsung ke restoran dan tercipta ruang terbuka untuk publik. Dengan demikian lobby tidak berada di depan hotel seperti pada umumnya, melainkan ada di belakang restoran.

Pengurangan elemen kayu ditemui pada interior koridor, berganti dengan elemen tembaga bermotif ukiran Bali. “Agar kelihatan interior menjadi maksimal, elemen ringan juga diaplikasikan,” jelas Ferry. Seperti pada penyekat kamar mandi yang terbuat dari kaca. Kesan ringan dan luas juga didapatkan dari pemilihan furnitur, ornamen berwarna terang dan bantuan pemakaian cermin.

Konsistensi konsep green terasa pula di kamar hotel dengan permainan warna hijau yang lembut dan menonjolkan elemen kayu, batu, tanaman. Material yang dipilih berwarna muda agar terlihat lebih luas