Pengusaha Properti Khawatir Dampak Kenaikan Baja Dunia

Posted on 21 Maret 2010

0


JAKARTA, KOMPAS.com – Meski mengaku tak terlalu khawatir dengan dampak rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 15 persen Juli nanti, pengusaha properti kini justru tengah berhitung dampak kenaikan harga baja dunia yang terus menanjak belakangan ini. “Soalnya baja adalah komponen terbesar kedua dalam proyek properti,” kata Teguh Satria Ketua Real Estate Indonesia (REI).

Teguh mengatakan komponen terbesar yakni semen mengambil porsi sekitar 20 persen dari biaya produksi atau pembangunan rumah. Meski baja tak sampai 20 persen, namun ia menilai dampaknya akan cukup signifikan. Soalnya, baja termasuk komoditas yang bersifat bak lokomotif harga.

“Pengaruh harga baja sangat besar terhadap tren harga komponen lain,” terang Teguh. Itu sebabnya kekhawatiran soal harga produksi terus membayangi.

Meski demikian, Teguh mengaku belum bisa memprediksikan pengaruh kenaikan harga baja dunia ini terhadap harga jual properti. “Kita lihat trennya dulu selama beberapa waktu ke depan atau setidaknya dalam bulan Maret ini,” katanya.

Menanjaknya harga baja belakangan ini, lanjut Teguh, merupakan dampak dari menggeliatnya pembangunan di China. Negara tirai bambu tersebut kini memang tengah bersemangat melakukan proyek-proyek infrastruktur dan properti..

Akibatnya, pasokan baja dunia terserap cukup besar. Pada saat yang sama, kapasitas produksi baja dunia pun tidak bertambah. Beberapa negara penghasil baja mengaku telah memaksimalkan utilisasinya.

“Kami sudah berproduksi secara maksimal, bahkan tidak sempat ekspor karena sudah terserap habis di dalam negeri,” kata Irvan Kamal Direktur Marketing PT Krakatau Steel.

Permintaan riil baja hasil produksi Krakatau Steel hingga akhir tahun lalu sudah mendekati 225.000 ton per bulan. Dengan memanfaatkan kapasitas produksi hingga 90 persen, Krakatau Steel bisa memproduksi hingga 200.000 ton baja per bulan.

Krakatau Steel memperkirakan harga internasional untuk baja plat hitam pada Juni 2010 bisa menembus US$700/ton, naik 40 persen dibandingkan proyeksi harga sepanjang bulan ini yang berkisar US$ 500/ton.

Posted in: Hot News, Konstruksi