Jebolnya Tanggul Situ Gintung, Siapa Yang Bersalah????

Posted on 17 Maret 2010

0


Situ Gintung adalah danau kecil buatan yang terletak Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Lokasi danau ini berada di sebelah barat daya kota Jakarta. Danau seluas 21,4 ha (2008) ini telah berubah fungsi, dimanfaatkan sebagai tempat wisata taman.

Fungsi awal

Awal pembentukan situ (danau) ini adalah sebagai waduk yang berfungsi sebagai tempat penampungan air hujan dan untuk perairan ladang pertanian di sekitarnya, dibuat antara tahun 19321933 dengan luas awal 31 ha. Kapasitas penyimpanannya mencapai 2,1 juta meter kubik. Situ ini adalah bagian dari Daerah Aliran Ci Sadane merupakan salah satu sungai utama Propinsi Banten dan Jawa Barat sumber berasal dari Gunung Salak dan Gunung Pangrango di (Kabupaten Bogor, sebelah selatan Kabupaten Tangerang) yang mengalir ke Laut Jawa panjang sungai ini sekitar 80 km dan bendungan aliran Kali Pesanggrahan. Di tengah-tengah situ terdapat sebuah pulau kecil yang menyambung sampai ke tepi daratan seluas kurang lebih 1,5 ha yang bernama Pulau Situ Gintung beserta hutan tanaman yang berada sekitarnya.

Semenjak tahun 1970-an kawasan pulau dan salah satu tepi Situ Gintung dimanfaatkan sebagai tempat wisata alam dan perairan dimana terdapat restoran,kolam renang,dan outbond.

Bencana Tanggul Bobol 2009

Pada tanggal 27 Maret 2009 dini hari, wilayah Situ Gintung mengalami hujan deras yang menyebabkan pihak keamanan memberikan peringatan bahaya banjir sekitar pukul 02.00. Namun demikian, tidak ada tindakan lanjut pengamanan,[rujukan?] hingga terjadi kebobolan tanggul selebar 30 m dengan ketinggian 6 m pada sekitar pukul 04.00 WIB dan sekitar 2,1 juta meter kubik air melalui melanda pemukiman yang terletak di bawah tanggul.

Korban meninggal sedikitnya 99 orang dan diperkirakan catatan ini masih akan berubah. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla mengunjungi tempat bencana pada siang hari dan berjanji akan secepat mungkin melakukan renovasi. Bencana ini juga membuat Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, memerintahkan pemeriksaan ulang semua bangunan pengatur air di wilayah DKI Jakarta.

Pintu pelimpasan yang menjadi jalan bagi luberan air Situ Gintung merupakan titik lemah yang mengakibatkan tanggul tidak kuat menahan tekanan air. Demikian hasil analisis tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang diumumkan hari ini.

Menurut ahli hidrologi BPPT Sutopo, di Jakarta, Selasa (31/3), analisis itu menggunakan dokumentasi yang diambil lembaga riset itu pada 5 Desember 2008. Ketika itu sejumlah ahli BPPT melakukan studi potensi Situ Gintung untuk waduk resapan.

Sejumlah foto dokumentasi yang diambil pada riset akhir tahun lalu itu, kata dia, dikaji secara mendalam oleh sejumlah ahli setelah situ itu jebol dan mengakibatkan timbulnya bencana besar.

Hasilnya, kata dia, ada indikasi telah terjadi erosi buluh, gerusan yang juga terjadi pada sela-sela tanah di sekitar pintu pelimpasan.

Sutopo mengatakan, dari bekas jebolnya tanggul, diduga erosi buluh sudah berlangsung cukup lama. Itu ditandai dengan adanya mata air di bawah tanggul. Disebutkan, erosi buluh itu makin lama menggerus bagian dasar tanggul, dan ketika gaya dorong massa air lebih besar terjadi longsoran pada badan tanggul.

“Tidak ada hubungan jebolnya tanggul Situ Gintung dengan penggundulan hutan,” kata Sutopo.

Menurut dia, dalam sistem hidrologi, situ itu tidak ada hubungan dengan penggunaan lahan di kawasan hulu daerah aliran Sungai Pesanggrahan.

Sedangkan hujan besar yang mencapai 70 mm per jam beberapa waktu sebelum tanggul Situ Gintung jebol, kata dia, bukan penyebab utama, melainkan sebagai pemicu. Dia mengatakan, di sekitar situ itu pernah terjadi hujan dengan lebat yang lebih besar dari hujan saat bencana tersebut terjadi.

Analisis itu juga menunjukkan bahwa muka air situ itu menjelang bencana tidak melebihi badan tanggul. Jika itu yang terjadi, kata dia, bukan hanya pintu pelimpasan itu yang jebol.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, kata Sutopo, BPPT merekomendasikan agar situ yang ada di Jabodetabek disurvei untuk melihat potensi bencana. Juga perlu dibangun sistem peringatan dini. “Audit teknologi terhadap struktur dan kelayakan bendungan, tanggul, jembatan, dan infrastruktur juga perlu dilakukan,” kata dia.

Dia juga menambahkan, penyebab jebolnya bendung yang diakibatkan lemahnya pintu pelimpasan, seperti terjadi di Situ Gintung, di dunia terjadi sekitar 38 persen. Sementara akibat peluapan 35 persen, fondasi jebol 21 persen, serta karena longsoran enam persen

Gubernur Jakarta pernah mengungkapkan seharusnya tidak ada masyarakat yang tinggal di dataran rendah dan palung sungai karena rentan terkena air bah. Ini menimbulkan pertanyaan pada pemerintah daerah mengapa pihak berwenang mengeluarkan izin pembangunan rumah dan bangunan lain di bawah bendungan.

Pembangunan yang pesat dan perambahan hutan di kaki bukit, yang mengelilingi Jakarta, dianggap sebagai penyebab banjir bandang beberapa tahun belakangan ini.

Nirwono Yoga, Ketua Kelompok Studi Arsitektur Landskap Indonesia.

“Bendungan di Jakarta seperti Situ Gintung berada di atas bukit dan hanya dipisahkan oleh jalan dan pemukiman. Sebagaian besar bendungan itu kondisinya mengkhawatirkan karena telah berkurang lima hingga 10 hektar buat jalan, perumahan dan tujuan komersial lainnya.”

Belanda membangun Situ Gintung, bendungan di dataran tinggi, tahun 1933 untuk menampung air berlebih selama musim hujan. Di belakangnya dikelilingi pertanian dan hanya ada sedikit pemukiman penduduk. Namun, kini wilayah itu merupakan bagian pinggiran kota Jakarta, rumah bagi 12 juta penduduknya.

Dalam beberapa tahun belakangan, fungsi aslinya diabaikan, karena situ itu hanya dimanfaatkan sebagai tempat wisata.

Janjaap Brinkman, ahli air Belanda di Delft Hydraulics.

“Sekarang situ itu digunakan sebagai tempat rekreasi sekaligus memasok air bagi daerah sekitar. Masalahnya mereka mengoperasikan situ itu secara penuh, ini berarti waduk penuh dan ketika banjir datang atau hujan lebat, tidak bisa ladi menampung. Padahal awalnya, situ ini untuk menampung banjir lokal.”

Di tempat kejadian, masyarakat yang tinggal di sepanjang situ mengungkapkan pada para repoter kalau mereka tidak pernah melihat diding bendungan dirawat atau diperbaiki.

Mereka juga mengatakan, para penduduk membuat batu bata dari dinding bendungan untuk membangun rumah mereka.

Bekas pejabat Di Kementrian Pekerjaan Umum, Wahyu Hartono, menjelaskan perawatan bendungan telah lama diabaikan.

“Menurut prosedurnya, bendungan harusnya diwarat secara teratur. Tapi karena dana kurang, perawatan dam tidak maksimal. Karena dibuat Belanda kami pikir Situ Gintung masih aman.”

Janjaap Brinkman sepakat perawatan fasilitas seperti bendungan adalah sebuah masalah dan ia menyalahkan desentralisasi selama satu dekade akibat demokrasi di Indonesia.

“Situ ini sudah ada sejak tahun 1930an dan tak terjadi apa-apa. Jika Anda mengawasi tanggul dengan baik, strukturnya tidak akan bermasalah dengan model situ seperti ini. Apa yang terjadi dalam 10 tahun terakhir cukup membingungkan soal siapa yang bertanggung jawab untuk situ ini dan siapa yang harus bertanggung jawab memeriksa tanggul dan melakukan perawatan.”

Ratu Atut Chosiyah,Gubernur Banten mengatakan terdapat rembesan tanah yang retak sepanjang 15 meter ke bawah ditambah dengan curah hujan yang tinggi yang menjadi penyebab ambrolnya waduk kecil tersebut. Alam dan manusia yang berulah mengakibatkan waduk jebol demikian kesimpulan yang dapat kita tarik.

Berbeda dengan SBY dan Gubenur Banten, menurut pendapat Tim Kajian Likuifaksi dan Sumber Daya Air Pusat Penelitian (Puslit) Geoteknologi LIPI. Kesalahan jebolnya tanggul ini adalah pada pemerintah yang bertanggungjawab atas kondisi waduk yang ada di Indonesia (pemerintah yang mana yang bertanggungjawab ? Dihitung dari berdirinya tanggul sudah beberapa kali pemerintah yang berkuasa berganti-ganti ?? tentunya pemerintahan SBY tidak mau disalahkan karena apa yang mereka lakukan hanyalah menjalankan beberapa tradisi yang sudah ada, termasuk tradisi tidak memperdulikan waduk-waduk tua). Tapi menurut Tim LIPI tersebut paling sedikit ada 4 (empat) kesalahan atau kelalaian pemerintah yaitu tidak pernah ada inspeksi rutin atas tanggul yang sudah “buyut”. Kedua adalah waduk tidak pernah dirawat secara rutin bahkan sebaliknya dieksplotasi (Izin berdirinya bangunan di sekitar waduk ditambah wahana rekreasi juga berdiri. Seharusnya lokasi pemukiman warga terdekat letaknya dari bangunan tanggul dan bantaran sungai berjarak sekitar 100-200 meter lahan situ harus bebas bangunan dan diperuntukkan bagi jalur hijau dan kolam penampungan air sementara.). Ketiga, kesalahan pemerintah terletak pada kurangnya peringatan terhadap warga atas potensi jebolnya tanggul. Padahal pemerintah selaku penanggung jawab wajib memberikan peringatan kepada warga. Keempat, kesalahan terletak pada pelanggaran tata ruang yang dilakukan pemerintah.

Selain itu seperti yang telah diatur oleh Undang-Undang No.24 tahun 2007 tentang Penganggulangan Bencana, pemerintah melakukan mitigasi yaitu serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bahaya. Mitigasi bukan hanya setelah bencana datang namun pemerintah harus mempunyai kemampuan untuk mendeteksi daerah rawan bencana seperti fasilitas umum yang sudah berusia lanjut dan mengalami kerusakan sehingga resiko bencana dapat dikurangi.

Siapa yang bersalah?????

Kalau sudah terjadi musibah, maka banyak pihak yang saling menyalahkan.Sebuah catatan imajiner (ada sumber nyata, ada juga yang karangan) :

Pertama, situgintung adalah buatan manusia, ada yang membuat dan harus ada yang merawat, saya dengar dan baca, perawatan tidak pernah dilakukan.

Kedua, siapa yang memberi ijin pembangunan rumah di daerah rawan itu?

Ketiga, sejak dua tahun lalu sudah dilaporkan mengenai kerusakan dinding tanggul, tapi tidak ada langkah lanjutan dari PU.

Keempat, warga yang tinggal di daerah berbahaya, kurang waspada, bahkan ketika sehari sebelumnya sudah terlihat gejala, dan bocoran, tidak mengambil langkah antisipasi.

Berdasarkan Hasil Analisa DPC

1. Ada yang mengatakan bahwa jebolnya tanggul itu karena curah hujan yangtinggi./ Tapi pihak BMG mengatakan curah hujan pada Kamis malam itu sangat rendah. Pihak BMG memastikan bahwa jebolnya tanggul bukan karena curah hujan
yang tinggi.

2. Ada yang mengatakan dulu Situ Gintung itu luasnya 31 ha, sekarang tinggal 23 ha karena dipakai permukiman. Berkurangnya daya tampung situ ini sehingga tidak mampu menampung guyuran hujan yang tinggi dan akhirnya jebol. /Loh… bukannya
kalau situ (danau) itu volumenya berkurang tekanannya menjadi lebih rendah? Mestinya semakin mengecil volume danau, justru tidak membuat tanggul jebol toh..

3. Masyarakat bilang, sebelumnya sudah ada retak-retak dan sudah dilaporkan kepada Pemerintah, tapi tidak ada respon. /Tapi Balai Besar DAS Ciliwung yang sehari-hari memelihara Situ Gintung membantah bahwa tidak ada retak-retak dan tidak ada laporan ke kami. /Loh..jadi lapor ke siapa? Kalau cuma lapor kelurahan, atau ke kecamatan… ya..mereka tahu apa?

4. Pemda Tangerang mengatakan bahwa soal Situ Gintung itu bukan kewenangan wajib Pemda, tetapi sepenuhnya tanggung jawab Pemerintah Pusat, dalam hal ini Departemen PU. /Pemerintah cq PU mengaku bahwa itu memang tanggung jawab Dep.
PU. Dep. PU merasa sudah melaksanakan kewajibannya dengan memelihara dan mengeluarkan dana besar untuk Situ Gintung. Tapi Dep. PU sesuai dengan UU tidak bisa mengontrol tumbuhnya pemukiman dekat tanggul yang akan menganggu kestabilan tanggul. Soal pemukiman jelas tanggung jawab Pemda Tangerang /Nah lho…

5. Ada yang mengkritik lagi kepada Pemerintah Belanda dan Pemerintah RI sekarang yang mewarisi. Mengapa Belanda pada tahun 1933 hanya membuat bendungan berupa urugan tanah saja, mengapa tidak dibuat bendungan beton yang kuat?/ Menurut Dep. PU, membuat tanggul dengan beton yang melingkar itu mahal dan teknologi yang cukup tinggi. Masalahnya bukan soal biaya ataupun teknologi, tapi batuan bawah di Indonesia itu berupa batuan muda. Jadi bila pake beton, tetap saja pegangan beton pada batuan muda tidak kuat,..nanti bisa jebol juga. /Betul juga ya…

6. Kalau begitu.., dengan tangggul yang berupa urugan tanah saja…suatu ketika akan jebol dan memakan korban. Artinya soal tanggul jebol hanya soal waktu saja. Artinya juga… soal korban yang akan jatuh seperti sudah diketahui..atau direncanakan. .wah kejam nian Pemerintah ini./Bukan begitu! Itu kejadian buruk yang tidak diinginkan. Oleh karenanya ada jalur atau ruang yang bebas dari pemukiman di arah hilir bila tanggul benar-benar jebol dan air tumpahan akan langsung masuk ke sungai Pasanggrahan. /Nah..sekarang tanggul benar-benar jebol dan ternyata ruang yang seharusnya kosong untuk jalannya air danau bila tanggul jebol ternyata sudah banyak pemukiman…

7. Kesalahan dari pada manusia itu sendiri/warga sekitar tanggul situgintung yang tidak mempedulikan pelestarian tanggul situgintung yang memanfaatkan dengan cara yaitu dengan membuat pipa saluran air  pada dinding tanggul  yang mengakibatkan keretakan pada dinding tanggul tersebut…

8.  Kesimpang siuran anggaran APBN yang diberikan pemerintah terhadap DPU, Kontraktor/pemborong yang bekerja sama dalam proyek pembuatan situgintung, dan penanggung jawab serta pengawas proyek…

9. Menipisnya anggaran APBN yang diberikan Pemerintah dalam pembuatan proyek tanggul situgintung, terutama masalah pengadaan bahan-bahan material…

10. Lemahnya pengetahuan pemerintah, Departemen PU, Kontraktor/Pemborong, dan Pengawas Proyek mengenai pentingnya  Pratek kontruksi proyek infrastruktur yang benar…

11. Lemahnya kemampuan pemerintah, Departemen PU, kontraktor/pemborong dalam menerapkan pengetahuan akan ilmu dan prinsip engineering…

12. Kepekaan akan masalah sosial, kultural dan lingkungan…

Demikianlah hasil analisa DPC, semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak…

Posted in: DPC, Hot News, Konstruksi