Dinding : Lebih Ringan (Namun Tetap Kuat) = Lebih Tahan Gempa

Posted on 11 Maret 2010

0


Gempa adalah fenomena alam yang sering terjadi di Indonesia, karena pada umumnya daerah di Indonesia memiliki tingkat aktifitas vulkanis yang sangat tinggi, dan juga memiliki lapisan dasar tanah yang cukup rawan sebagai pemicu terjadinya gempa tektonik.
Menurut Subandono Diposaptono, seorang peneliti dari Departemen Perikanan dan Kelautan RI, setiap bulannya rata-rata terjadi gempa 300-450 kali di Indonesia. Untungnya gempa yang terjadi adalah gempa skala kecil. Gempa vulkanis maupun tektonis dalam skala kecil tidak terlalu berpengaruh terhadap struktur bangunan yang berada di sekitarnya.
Namun terkadang terjadi gempa dalam skala besar yang menyebabkan banyak sekali bangunan hancur rata dengan tanah dan mengakibatkan banyak korban meninggal. Baru baru ini, sebuah gempa cukup besar berkekuatan 7,6 SR terjadi pada hari Rabu, 30 September 2009, pukul 17.16 WIB, dengan kedalaman 110 Km di Sumatera Barat. Pusat gempa sendiri berada pada 22 Km Barat Daya Pariaman.. Juga gempa tektonik Jawa yang terjadi pada beberapa waktu lalu pada tanggal 2 September 2009 berpusat di 142 km barat daya Tasikmalaya berskala 7.3 SR.
Pada dasarnya bangunan yang dihuni tersebut rusak atau hancur dikarenakan struktur bangunan yang tidak cukup ringan dan tidak memiliki tingkat kesatuan dinding (monolit) yang cukup.
A. Prinsip Bangunan Tahan Gempa
1. Denah yang sederhana dan simetris
Penyelidikan kerusakan akibat gempa menunjukkan pentingnya denah bangunan yang sederhana dan elemen-elemen struktur penahan gaya horisontal yang simetris. Struktur seperti ini dapat menahan gaya gempa Iebih baik karena kurangnya efek torsi dan kekekuatannya yang lebih merata.
2. Bahan bangunan harus seringan mungkin
Karena keterbatasan pilihan bahan bangunan, sang perancang bangunan menggunakan bahan bangunan konvensional yang umumnya berat, tetapi akan lebih baik apabila memakai bahan bangunan yang ringan. Hal ini dikarenakan besarnya beban inersia gempa adalah sebanding dengan berat bahan bangunan.
Sebagai contoh penutup atap genteng di atas kuda-kuda kayu menghasilkan beban gempa horisontal sebesar 3X beban gempa yang dihasilkan oleh penutup atap seng alumunium di atas kuda-kuda kayu. Sama halnya dengan pasangan dinding bata menghasiIkan beban gempa yang jauh lebih besar dibandingkan dengan menggunakan material dinding yang ringan.
3. Ikatan bangunan harus membentuk satu kesatuan yang kokoh
Apabila kita melihat kondisi bangunan konvensional pasca gempa, masih banyak terlihat kondisi dinding pada bangunan yang terpisah dari kolomnya. Hal ini menunjukkan bahwa semakin monolit (satu kesatuan) suatu dinding akan meminimalisir keruntuhan terhadap efek gempa. Konstruksi dinding / bangunan yang tidak monolit (misalnya bata merah, bata ringan) akan cenderung mengalami masalah keretakan bahkan runtuh total di saat gempa berkekuatan besar terjadi.
Lain halnya dengan pola dinding yang mempunyai kesatuan antara dinding dengan kolom. Hal ini akan membuat bangunan menjadi satu kesatuan (boxed effect).
Adanya reinforcement atau perkuatan tambahan (misalnya dengan pembesian wiremesh), akan sangat membantu untuk membentuk suatu kesatuan bangunan yang utuh.
Dengan adanya tambahan reinforcement ini, apabila terjadi guncangan sekalipun, kemungkinan dinding akan mengalami keretakan, akan tetapi terhindar dari runtuh total (catastrophic failure).
4. Perlunya sistim konstruksi penahan beban yang memadai
Supaya suatu bangunan dapat menahan gempa, gaya inersia gempa harus dapat disalurkan dari setiap elemen struktur kepada struktur utama gaya horizontal. Kemudian memindahkan gaya-gaya ini ke pondasi dan ke tanah. Akan sangat penting apabila struktur utama penahan gaya horisontal itu bersifat elastis. Karena jika kekuatan elastis dilampaui, keruntuhan getas yang tiba-tiba tidak akan terjadi, tetapi pada beberapa tempat tertentu akan terlihat pola retak / lendutan terlebih dulu.
Dinding b-panel merupakan konsep material bangunan baru yang dikembangkan oleh PT. BETON ELEMENINDO PUTRA dalam bidang konstruksi di Indonesia, dengan sistim dinding Sandwich Panel yang terbuat dari material (b-foam) yang sangat ringan, dilapisi oleh wiremesh mutu tinggi (U-50), terbalut plaster beton berkekuatan tinggi (K-225) dan berfungsi sebagai dinding struktur Tahan Gempa (load bearing wall) sehingga memiliki struktur yang ringan, namun juga kokoh.
Salah satu kelebihan b-panel adalah memiliki berat yang lebih ringan dibandingkan dengan dinding dengan metoda konvensional biasa. Dan juga memiliki pola dinding monolit yang terhubung antara bagian dinding yang satu dengan dinding lainnya dikarenakan memiliki wiremesh yang berfungsi saling mengikat erat.
Sistem b-panel tidak hanya untuk aplikasi dinding struktur semata, akan tetapi juga dapat diaplikasikan untuk lantai, dak atap dan tangga dengan karakteristik insulasi (thermal / akustik) dan ketahanan gempa yang unggul.
Material Dinding b-panel
Dinding b-panel merupakan tipe dinding sandwich panel (dinding dengan material berlapis) yang terdiri dari 3 mateial.
1. b-foam
Bahan yang terbuat dari polystyrene dengan minimum berat jenis 12 kg/m3.
2. Baja Mutu Tinggi (wiremesh)
Baja Mutu Tinggi yang dirangkai dengan desain khusus berdiameter 3mm (mutu U-50).
3. Plaster Beton Shotcrete
Plaster dengan cara shotcrete berguna untuk menyelimuti wiremesh sehingga membentuk struktur dinding beton dengan ketebalan 3cm di kedua sisi (mutu K-225).

Posted in: DPC, Konstruksi