Mengambil Hikmah dari Ambruknya Dubai

Posted on 20 Februari 2010

1


Sudah beberapa bulan ini, media massa dunia ramai memberitakan ihwal krisis keuangan negeri impian, Dubai. Krisis yang menyebabkan penjualan besar-besaran saham secara global dan saham-saham secara perbankan jatuh ini sangat amat mengejutkan. Kejatuhan Dubai menibulkan kekhawatiran akan runtuhnya sistem keuangan dunia.

Siapa yang tidak kenal Dubai? Salah satu kota utama di Uni Emirat Arab ini memukau dunia dengan belasan proyek sangat berkelas. Di antaranya, pertama, Dubai membangun hotel termewah sejagat, Burj Al Arab. Hotel yang dikelilingi  laut ini diarsiteki Tom Wright, salah satu arsitek terbaik dunia.

Dunia terpesona oleh kehadiran hotel ini yang memang luar biasa megah. Kedua, dunia juga terpana oleh proyek-proyek Dubai yang dahsyat, misalnya mall Emirates, Dubai Mall yang sungguh memukau.

Ketiga, otoritas Dubai pun membangun dua proyek paling fantastis di dunia, yaitu menimbun laut untuk melahirkan daratan baru berupa pohon palem raksasa dan daratan yang menyerupai daratan 5 benua.

Proyek ratusan miliar ini memang menakjubkan. Dipandang dari udara, pohon-pohon palem raksasa dan daratan 5 benua itu seolah dipahat dengan tangan. Jumlah pulaunya 350 buah, menambah keindahan dunia. Di atas daratan baru inilah dibangun sentra hunian, bisnis, rekreasi, pendidikan dari seni.

Prestasi ini tercatat dalam rekor dunia. Hanya Dubai yang mampu membangun sekaligus kota di atas padang gurun dan lautan. Dalam era bisnis yang amat ketat seperti sekarang, siapa yang mampu melawan kedigjayaan Dubai? Siapa yang mampu mengucurkan dana ratusan miliar dollar tanpa berkedip? Berjuta manusia dari lima benua menyempatkan diri datang mengunjungi kota ini dan pulang membawa cerita serba memukau.

Di tengah situasi serba terpesona itulah,lalu muncul warta yang menyatakan Dubai bangkrut. Perusahaan investasi pemerintah, Dubai World mengejutkan dunia ketika meminta penundaan enam bulan untuk membayar utang sebesar 29 miliar dollar dari yang jatuh tempo dari total utang  sebesar 80 miliar dollar.

Dubai yang disebut sebagai keajaiban ekonomi Timur-Tengah dipandang terlalu berani mencurahkan ratusan miliar dollar AS dalam bentuk pinjaman untuk membangun properti dan lokasi pariwisata mewah dan luas.

Indonesia yang pernah dihajar krisis ekonomi hebat tahun 1997-2000, perlu mengambil hikmah dari ambruknya ekonomi Dubai. Apalagi patut diketahui bahwa salah satu penyebab krisis tersebut akibat ekspansi properti yang berlebihan. Proyek properti yang terhenti pada masa itu, masih dapat ditemukan bangkainya di banyak wilayah Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia.

Ajakan tetap perlu dilakukan kendati para pemain properti Indonesia terkesan sudah amat waspada mengantisipasi krisis. Ekspansi proyek sudah dilakukan amat hati-hati di Jakarta misalnya, para pengembang langsung menunda banyak proyek ketika dunia dihajar krisis ekonomi global, yang akibatnya juga terasa di Indonesia. Sejumlah secara terus terang menyatakan omzet mereka jatuh antara 30-70%. Ini besaran presentase penurunan omzet yang amat signifikan.

Mudah-mudahan tahun 2010 pasar properti memperoleh energi dan spirit baru sehingga bisnis properti cerah lagi.

Posted in: Hot News