Desain Rumah Bambu Modern

Posted on 18 April 2010

10


Dari artikel DPC  sebelumnya mengenai manfaat bambu sebagai alternatif tahan gempa.

“Rumah Bambu”. Begitulah rumah tinggal ini sering disebut karena unsur bambu sebagai unsur dekoratif melainkan juga sebagai material utama dalam struktur bangunan. Bambu memiliki kekuatan dan elastisitas yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai bahan bangunan pengganti kayu maupun baja.

Konsep Massa Bangunan

Perencanaan dan perancangan rumah tinggal ini berawal dari konsep keluarga dan jumlah anggota keluarga. Massa bangunan dibagi menjadi tiga area. Area pertama adalah massa bangunan Timur untuk area orang tua, bersifat privat. Area kedua adalah bale-bale bambu terbuka di tengah lahan untuk area bersama, bersifat publik. Area ketiga adalah massa bangunan Barat untuk area anak-anak, bersifat semiprivat. Konsep dari bentuk fisik dan tata letak massa bangunannya sendiri disesuaikan dengan keberadaan 9 pohon cengkeh yang sudah berada di lahan tersebut sebelum dimulainya proses konstruksi bangunan. Hal inilah yang menyebabkan munculnya konsep bangunan ramping. Perwujudannya adalah massa bangunan dibuat dengan  dengan sistem modular dengan jarak antar kolom sebesar 3.5 sampai dengan 4 meter yang diletakkan diantara pohon cengkeh yang tumbuh subur dan masih produktif.

Massa bangunan Timur dan massa bangunan Barat masing-masing berdiri sendiri. Semua ruangan tidur berada di lantai atas setiap massa bangunan agar privasinya lebih terjaga. Lantai dasar terdiri dari ruang tidur tamu, ruang makan dan pantri, dapur besar serta musala. Untuk lantai dasar, kedua massa bangunan dihubungkan oleh bale-bale bambu terbuka yang merupakan pusat dari rumah tinggal ini. Bale-bale ini cukup luas yaitu 50 m2 dan didesain tanpa dinding dan pintu sehingga terbuka bebas menghadap ke bagian depan rumah dan ke bagian belakang rumah. Bale-bale bambu dan jembatan bambu menggunakan batangan bambu utuh sebagai lantai. Baloknya menggunakan teknik baut.

Untuk lantai atas, kedua massa bangunan dihubungkan oleh jembatan bambu yang juga didesain terbuka. Jembatan ini tepat berada di atas bale-bale bambu sehingga sekaligus berfungsi sebagai atap bagi bale-bale tersebut. Jembatan ini rencananya akan diberi penutup atap dengan struktur tenda. Ruang terbuka ini didesain agar terjalin hubungan dan keselarasan antara ruang dalam dan ruang luar.

Akhirnya kita dapat melihat keinginan perancang sekaligus pemilik rumah ini yang berusaha untuk menerapkan konsep green architecture melalui konsep daur ulang, penghormatan terhadap keberadaan eksisting pohon cengkeh, pemakaian material bambu secara inovasi yang diitegrasikan dengan penggunaan material bekas telah menghasilkan sebuah karya arsitektur dan ramah lingkungan yang patut kita apresiasi bersama.

Eksplorasi Bambu dan Pemanfaatan Material Bekas Pada Bangunan

Bambu adalah material utama yang dieksplorasi rumah tinggal ini. Mengapa bambu? Bambu dipilih karena pemilik rumah ingin menggunakan material yang tidak banyak membutuhkan energi dalam pelaksanaannya. Di samping itu sekaligus berfungsi juga sebagai alat untuk mensosialisasikan kemungkinan jenis material alami lain selain kayu untuk bahan bangunan. Tidak seperti pohon kayu yang sekali tebang habis, bambu dapat dipanen setiap 3 tahun sekali dan terus menerus tumbuh selama akaranya tidak ikut dirusak, sehingga bambu dapat cepat diperbaharui, renewable and suistenable material. Bambu sangat mudah diperoleh, terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dari segi biaya, bambu lebih murah sedangkan dari segi pelaksanaannya, bambu juga mudah diolah menjadi berbagaijenis bahan bangunan.

Bambu yang digunakan pada rumah tinggal inididapat dari daerah Parongpong, Lembang, Ciwidey dan sekitarnya. Jenis bambu yang digunakan adalah bambu tali/apus, bambu temen, bambu petung dan bambu gombong. Sebelum digunakan sebagai bahan bangunan, furnitur maupun elemen estetis, bambu terlebih dahulu dibawa ke workshop untuk diproses terlebih dahulu. Bambu diawetkan dengan cara perendaman dengan campuran 5 % bahan kimia dan 95 % air selama 14 hari, kemudian dikeringkan. Sebagian besar, bambu diolah menjadi bahan bangunan yang dikerjakan langsung di lokasi bangunan. Namun ada juga yang diproses terlebih dahulu di workshop yaitu untuk pembuatan panel lantai bambu dan anyaman gedek bambu.

Aplikasi struktur bambu pada rumah tinggal ini bermacam-macam. Massa bangunan Timur dan massa bangunan Barat menggunakan bambu hanya sebagai struktur utama maupun sebagai dinding pengisi. Bambu gombong atau bambu petung berdiameter 10 – 12 cm dimasukkan ke dalam kolom struktur, kemudian diberi tulangan besi dan dicor beton. Bambu ini dapat mengurangi jumlah cor beton sampai 50 % nya. Teknik ini disebut bamboocrete. Bambu berbentuk anyaman digunakan pada sebagian dinding sebagai pengganti bata atau batako. Anyaman bambu tersebut dilapisi kedua sisinya oleh ram kawat berbentuk “honey”, kemudian diplester dengan finishing kamprot atau acian biasa. Teknik ini disebut plastered bamboo wall yang dapat menghemat biaya dari Rp95.000,00/m2 menjadi Rp72.000,00/m2 dibandingkan dengan dinding batu bata konvensional. Bambu juga digunakan sebagai bahan penutup lantai. Batang-batang bambu dipotong kecil-kecil, kemudian direkatkan satu sama lain sehingga membentuk sebuah panel, disebut laminated bamboo floor.

Selain menggunakan bambu sebagai material utama, rumah ini juga menerapkan konsep recycled materials dengan cara menggunakan material-material bekas yang banyak dijual di pinggiran jalan kota Bandung akibat dari banyaknya bongkaran rumah-rumah jaman Belanda yang dihancurkan oleh pemiliknya untuk diganti dengan bangunan baru. Material bekas yang digunakan di rumah ini adalah balok dan papan rasamala, multiplek, genteng plentong, tulangan besi berbagai ukuran, bongkaran kaca dan sebagainya. Penggunaan material-material bekas ini selain untuk mengurangi limbah terhadap lingkungan juga dapat menghemat total biaya pembangunan sampai 30 %.

About these ads